Pelecehan Seksual

Via Vallen mengunggah DM-nya yang berisi pelecehan seksual terhadap dirinya dari seorang lelaki. Lelaki itu diduga seorang pesepakbola yang sedang naik daun. Vallen sangat tersinggung dengan DM tersebut.

Ada banyak yang mencela keputusannya itu, termasuk Nikita Mirzani. Menurut Mirzani, hal yang dilakukan oleh Vallen lebay karena sebagai orang terkenal di Indonesia hal tersebut sudah biasa.

Menurut saya, saya mengacungi jempol untuk Vallen. Betapa tindakan ini merupakan tindakan yang bisa mengangkat tujuan yang lebih besar:

Melawan pelecehan seksual.

Saya mendapati dalam pelayanan rohani maupun curhat teman bahwa pelecehan seksual terhadap wanita sedemikian parah di Indonesia. Banyak korban wanita yang memilih diam. Bahkan, mereka cenderung disalahkan.

Banyak yang berkata, “ah, dia seronok berpakaian pantas saja itu terjadi.” Masalahnya, banyak justru yang menjadi korban pelecehan hanya karena dia terlahir cantik dan menarik. Bukankah itu artinya kita sebagai masyarakat yang mengabdi kepada Pencipta malah menyalahkan Dia?

Bahkan, banyak yang diam itu karena justru yang melecehkan adalah anggota keluarganya sendiri. Yang terjadi, si korban pun menderita dikucilkan sementara sang pelaku bebas.

Mengapa yang diperkosa malah disalahkan?

Bukankah sang Pria, sebagai peran pemimpin dalam masyarakat patrilineal harusnya bertanggung jawab penuh?

Pelanggaran Hak Personal

Mungkin kita akan bertanya, ya, kalau begitu bukankah kita jadi tidak bisa bercanda akrab lagi?

Ya, untuk orang yang sudah akrab, biasanya kita menunjukkan keakraban dengan panggilan hinaan. Apakah dengan demikian maka kita tidak boleh lagi bercanda demikian? Kita harus kaku satu sama lain.

Setiap kita memiliki apa yang disebut sebagai ruang personal. Ruang ini berhubungan dengan definisi kita sebagai sebuah ego yang berpikir. Di dalam ruang ini segala hal kita dibentuk.

Apa yang terjadi ketika kita memanggil sahabat dengan hinaan adalah sebenarnya masuk ruang ego tersebut. Ya, tidak apa, sebab ego sahabat kita sudah mengizinkan kita untuk masuk. Jadi, mau bercanda seperti apa pun bisa dilakukan karena ego sahabat takkan terluka.

Namun, ketika kita menghina orang lain yang tidak dikenal, kita sedang menginvasi ruang personal tersebut. Kita pun menjajah dia. Inilah yang dinamakan pelecehan.

Mengapa Vallen berang dengan invasi DM menjurus itu adalah karena pelecehan itu sendiri.

Pertama, si pesepak bola ini tidak kenal Vallen cukup dekat sehingga dia diizinkan untuk masuk ke dalam ruang personal tersebut. Dengan memanggil sembarangan ini jelas ia memandang rendah Vallen sebagai manusia. Egonya menginjak ego Vallen di bawah.

Kedua, invasi ini menimbulkan luka mendalam akibat stereotipe bahwa penyanyi Dangdut bisa “dipakai”. Vallen membangun gambaran bahwa Dangdut tidak melulu murahan. Biduan Dangdut ini secara profesional pun ingin membangun merek diri menjadi premium.

Apa yang dari Penting Tindakan Vallen

Terlepas dari apakah ini adalah marketing stunt-nya Vallen atau tidak, masalah pelecehan adalah masalah serius. Wanita yang menjadi korban seumur hidupnya pun mengalami bekas luka secara mental. Bahkan, tak jarang hidupnya kehilangan hak untuk berkesempatan maju.

Jadi, mari lepas dari kerangka sempit. Jangan lepaskan dan membenarkan pelaku pelecehan. Mari buat hambatan mental untuk setiap calon peleceh sehingga ia mesti berpikir ulang.

Jan Peter Alexander Rajagukguk

Jan Peter Alexander Rajagukguk

Saya seorang yang suka menulis.