Avengers Infinity War

Saya mengacungi jempol untuk tim pembuat Avengers Infinity War ini. Film karya Russo bersaudara ini memiliki aspek teknikal yang tinggi. Bayangkan saja, dari banyak film dengan berbagai cita rasa, film ini harus membuat sebuah gado-gado yang enak dan menyatu.

Saya bisa menyebutkan beberapa cita rasa:

Ya, bahkan Thor dan Guardians of the Galaxy yang masuk kategori humor saja memiliki cara penceritaan yang berbeda! Saya salut dengan Russo bersaudara yang bisa mengorkestrasikan semuanya sehingga bisa berjalan dengan baik.

Untuk bisa menceritakan semua pahlawan yang ada, Russo bersaudara dan para penulis naskah membuat plot yang memartisi pahlawan-pahlawan Marvel ke beberapa lokasi. Ada yang terpisah di luar angkasa, ada yang di bumi. Dengan partisi-partisi ini, dialog dapat dibangun antara satu pahlawan dengan pahlawan lainnya yang dari film berbeda.

Menarik!

Tim-tim kecil ini berhasil membuat kita tidak sadar bahwa karakter-karakter yang memiliki cara penceritaan yang berbeda bisa beradu dalam beberapa panggung. Hal ini dilakukan tanpa membuat mereka terasa aneh atau tiba-tiba karakternya tidak konsisten.

Penjahat

Saya suka dengan penggambaran penjahat dalam film ini. Tim pembuat film memilih membahas Thanos dan latar belakangnya jauh lebih banyak dibandingkan yang lain. Bisa dibilang, ini film tentang Thanos; musuh yang kita tunggu semenjak beberapa tahun lampau.

Wajar, sih, mengingat Thanos hanya duduk saja kerjanya beberapa tahun terakhir. Tapi, dalam film ini kita kembali diaduk seperti film Captain America: Civil War. Ada alasan kuat mengapa Thanos menjadi seperti sekarang.

Bisa dibilang, Disney Marvel kali ini berhasil belajar dari Black Panther untuk memberikan latar yang dalam untuk penjahatnya. Sepertinya Disney Marvel ingin membawa relevansi kepada film-filmnya seperti komik-komiknya.

Pengalaman Menonton

Terus terang, film ini anehnya tidak terasa panjang. Padahal, durasi film ini dua jam setengah. Saya baru terasa ingin buang air kecil ketika sudah tulisan kredit muncul. Itu pun saya tahan-tahan karena Marvel biasanya menaruh cuplikan kecil sehabis itu.

Saya ingin menonton film ini lagi. Strategi saya, mungkin menonton di atas jam 9 malam. Ini untuk menghindari fanboy yang suka tepuk tangan, atau pun anak kecil yang tiba-tiba komentar.

Soal fanboy tepuk tangan, di bioskop tempat saya menonton juga ada, sih. Mereka tidak mengganggu. Bahkan, menambah efek psikologi seru. Tapi, untuk bisa menganalisis lebih lanjut, saya nggak mau terpaksa ikutan tepuk tangan sehingga tidak konsentrasi. Ha… ha… ha….

Oh, iya, saya lain kali juga akan memaksakan agar saya buang air kecil terlebih dahulu sebelum masuk bioskop. Anggap saja sama seperti mau tidur. Sehabis itu, dimanjakan dengan cerita yang luar biasa menyenangkan.

Jan Peter Alexander Rajagukguk

Jan Peter Alexander Rajagukguk

Saya seorang yang suka menulis.