Vegan Kartini

Tulisan ini terinspirasi dari status Facebook saya yang saya tulis 2 tahun lampau:

As the world still struggling with Feminism, here in Indonesia we celebrate a Vegan Feminist as our hero. Kudos to our founding father who set Women’s Day not the same as Mother Day. All power to us all. #KartiniDay

Dikirim oleh Jan Peter Alexander Rajagukguk pada 20 April 2016

Surat Kartini 27 Oktober 1902 kepada Ny.R.M. Abendanon-Mandri dan suaminya, berkata:

Sekarang kami masih harus menceritakan sesuatu mengenai diri kami, kami tidak tahu pendapat Nyonya, kami sekarang pantang makan daging. Sudah lama kami merencanakan itu dan bahkan beberapa tahun saya hanya makan tanaman saja tetapi tidak punya cukup keberanian susila untuk bertahan.

Entah apa maksud dari Soekarno, presiden pertama Indonesia, menetapkan seorang Vegan sebagai tokoh nasional. Saya sudah berusaha menemukan Keputusan Presiden No. 108 tahun 1964. Sayangnya, hasil pencarian nomor satu hanyalah tulisan yang mendiskreditkan Kartini. Saat tulisan ini saya tuliskan, situs resmi pemerintah peraturan.go.id pun tak dapat diakses.

Tentang opini mendiskreditkan Kartini itu, saya tidak mau banyak berpendapat. Opini amatir ini tidak menggali sisi sosio-budaya, politis, dan latar belakang pengangkatan Kartini. Kalau mau diambil positif, dia hanya salah satu bentuk kritik mengapa hanya Kartini saja yang diangkat.

Tetapi, hal yang paling serius adalah tulisan renungan Hari Kartini oleh Kami Perempoean. Blog ini menggambarkan kejujuran wanita Indonesia modern tahun 2018:

Mereka tidak kenal siapa gagasan Kartini!

Menurut saya, seharusnya buku “Sehabis Gelap Terbitlah Terang” menjadi bacaan wajib bagi para feminis Indonesia, atau orang-orang yang terinspirasi emansipasi. Tetapi, kenyataan memang pahit. Buku terjemahan tulisan Armijn Pane ini kalah pamor dibandingkan dengan karya kekinian lainnya. Padahal, Daniel Hutagalung sampai menyebut R.A. Kartini sebagai peretas zaman baru karena ide-ide radikal melampaui zamannya.

Tentang Kartini

Kartini bukanlah dewi. Dia adalah seorang manusia dalam tubuh wanita yang terkungkung aturan adat Jawa. Tuhan memberi dia anugerah untuk lahir di dalam keluarga yang mengedepankan kemajuan. Itu sebabnya, dia bisa memberikan buah pikiran.

Suami yang tak dicinta, namun memberikan kebebasan berekspresi. Pemberontakan kepada agama, sampai akhirnya menemukan penerimaan tentang adat dan latar kebijaksanaan yang ada di dalamnya. Ia kompleks, ia paradoks. Namun, dalam kungkungan zaman, ia berhasil terbebas dan memanfaatkan.

Kalau boleh disandingkan, dia itu seperti Zen Ikkyū, seorang anak singkong Kaisar Jepang yang menjadi Biksu. Kekuatannya adalah tulisan gagasannya yang menginspirasi orang. Setidaknya, tulisan Kartini menginspirasi Soekarno dalam memandang wanita.

Pudar

Mungkin karena selama ini kita hanya tahu saat hari Kartini adalah hari kostum pakaian daerah. Entah apa maksud Orba menerapkan hari itu sebagai hari berkostum bukannya membahas tulisan Kartini dan niat yang terkandung dalamnya. Mungkin mereka tidak ingin membuat kegaduhan. Masih ada orang-orang yang tidak nyaman dengan pandangan ekstrim Kartini.

Sssst…. Sedikit pencarian di Google, kita bisa menemukan PDF tulisan Kartini, lho. He… he… he….

Saya pikir ada banyak hal yang kita bisa petik dari tulisan Beliau. Perjalanan Beliau dari seorang yang baru jadi feminis sampai bijak dalam bergerak. Menurut saya, ada alasan luar biasa dan cita-cita Bapak Bangsa kita tentang kedudukan wanita yang terinspirasi dari sana. Dus, mengenai Keputusan Presiden No. 108 tahun 1964, betapa besar mulia landasan negara kita ini dalam membebaskan dari penjajahan.

Jan Peter Alexander Rajagukguk

Jan Peter Alexander Rajagukguk

Saya seorang yang suka menulis.