Evolusi Konservasi Pengetahuan

Sewaktu zaman Yunani kuno, orang mulai populer membuat tulisan. Namun, Socrates menentang adanya adat baru ini. Dia berkata,

[Tulisan] ini akan membuat jiwa yang mempelajarinya menjadi terbiasa untuk terlupa: mereka jadi malas mengingat karena mereka percaya kepada tulisan, sesuatu yang eksternal dan bergantung pada simbol-simbol yang dimiliki oleh orang lain, dan bukannya berusaha mengingat dari dalam, sesuatu yang milik mereka sendiri.

Intinya, dia memprotes budaya tulisan. Dia lebih suka oral dan semua muridnya mengingat setiap ajaran yang dia ajarkan di dalam hati. Untungnya Plato, muridnya, seorang yang bandel. Hari ini kita tidak akan tahu pemikiran-pemikiran bapak filsafat Barat ini apabila si Plato mendengar kata-kata gurunya.

Lanjut ke zaman sekarang, Kindle dan Android menjadi murah untuk dibeli. Internet semakin menyediakan bacaan daring. YouTube semakin mudah terakses. Niat membaca buku fisik pun semakin berkurang. Dan generasi pencinta buku pun berlaku bak Socrates; menistakan generasi baru yang mulai “malas” membaca buku.

Evolusi Kebutuhan

Saya terakhir membeli buku tentang bidang saya sewaktu semester tiga kuliah S1. Sewaktu kuliah, saya melihat apa yang dibahas dosen saya pun banyak yang sudah merupakan pengembangan dari buku. Apalagi, di tempat saya kuliah S1, buku rujukan bukanlah kewajiban dan setiap mahasiswa boleh menggunakan buku yang berbeda.

Ketika saya diperbolehkan bertapa di dalam Lab, saya pun diperkenalkan dengan candu yang namanya jurnal internasional. Saya diperkenalkan dengan akses IEEE, ACM, direct science, dan sebagainya. Oh, sungguh candu! Saya harus mengemis kepada rekan saya yang kuliah di luar sana ketika ada artikel yang tak bisa terakses dengan akses yang dimiliki tempat saya belajar.

Saya ingat sekali pemeo waktu itu. Buku adalah pengetahuan lima tahun lalu. Jurnal adalah pengetahuan tahun lalu. Blog adalah pengetahuan termutakhir.

Saya pun tidak lagi melihat buku sebagai sumber yang bisa diandalkan.

Swalayan Internet

Orang mungkin bilang bahwa buku adalah sumber ilmu. Ketika saya ingin belajar keilmuan saya, saya seringkali mendapati tulisan dalam buku rumit. Akhirnya, saya mendapatkan naungan penjelasan lebih lengkap pada blog-blog orang yang lebih personal. Lebih jujur mengungkapkan kekurangannya.

Forum-forum, Quora, dan StackOverflow memanjakan setiap orang yang ingin langsung melihat kode atau tulisan. Wikipedia menyediakan tulisan yang cukup komprehensif untuk memulai mengetahui sesuatu. Bahkan, mereka berbaik hati menyediakan tautan ke tulisan-tulisan lebih dalam.

YouTube memperkenalkan kembali sejarah penuturan oral. Sehingga, banyak anak yang sekarang terbantu dengan pembelajaran di YouTube daripada membaca buku pelajaran Marthen Kanginan. Apalagi, saluran seperti Kok Bisa? yang berusaha menyajikan suatu pengetahuan dengan bahasa sehari-hari misalnya, menyediakan alternatif bagi orang untuk dengan mudah mencerna suatu pengetahuan.

Waspada Jebakan Betmen

Jujur, setiap kita jadi tidak lagi memikirkan alasan yang ada di belakang setiap implementasi. Apalagi, tuntutan zaman yang menginginkan kita memiliki 1001 kemampuan membuat kita tidak bisa menyerap seluruhnya secara mendetail.

Seperti dibilang Socrates, memang ada kecenderungan jiwa menjadi bergantung kepada simbol-simbol dari orang lain. Pengetahuan tacit yang kita miliki menjadi tidak sekaya seperti orang lain. Akibatnya, kita pun menjadi miskin dalam berpikir.

Lah, itu ‘kan yang menjadi kelemahan adat menulis? Kalau itu dibebankan ke budaya swalayan Internet, seharusnya buku pun juga menjadi tersangka utama.

Ya, solusinya adalah dengan ikut menjadi orang yang berbagi kepada yang lain. Ya, toh? ‘Kan pengetahuan kita pun ikut terekam dan menjadi bagian pengetahuan “orang-orang lain” tersebut. Pengetahuan kita pun teruji oleh orang lain dan kita pun terbiasa berkomunikasi.

Mengutip kata Iang,

Ilmu kalau tidak dibagi, basi!

Justru itulah, blog dan vlog (blog video) mendukung setiap orang untuk berbagi. Proses berbagi ini menjadikan pengetahuan yang dimiliki oleh orang lain yang dibagikan ke dalam diri seseorang mengalami naturalisasi. Proses berbagi ini menjadikan pemikiran tersebut pun menjadi ingatan dalam diri seseorang.

‘Lah. Berarti pada zaman ini Uwak Socrates tidak lagi perlu cemas, ‘kan, ya?

Terakhir

Jadi, jangan salahkan kids zaman now memiliki kecenderungan untuk melupakan buku. Tetapi, terimalah bahwa zaman ini sudah mengembangkan media lain untuk menyimpan pengetahuan eksternal. Kalau pun buku menjadi punah, bersyukurlah karena hal tersebut mengurangi kebutuhan membabat habis hutan hujan tropis.

Jan Peter Alexander Rajagukguk

Jan Peter Alexander Rajagukguk

Saya seorang yang suka menulis.