Cambridge Analytica

Di tengah kegaduhan rakyat Indonesia tentang keabsahan kegadisan Lucinta Luna, dunia sedang berduka tentang terbongkarnya pengumpulan data oleh Cambridge Analytica (CA). Ada sekitar 50 juta akun yang berhasil dikeruk oleh CA. 50 juta data tersebut didapatkan dari 270.000 orang yang mengikuti kuis personalitas (personality test).

Data tersebut diolah dan digunakan untuk kepentingan politik sehingga mempengaruhi politik di berbagai negara, termasuk Amerika Serikat. Berbeda dengan iklan yang tidak mengenal secara pribadi orang yang ditargetnya, hasil pengolahan data ini dapat menentukan kata-kata/strategi yang tepat untuk memanipulasi keputusan untuk memilih secara lebih akurat. Hal ini karena proses yang dilakukan melewati batas privasi manusia.

Sebagai contoh, Trump secara tak sengaja memberitahukan tentang bagaimana CA memberikan kata “drain the swamp” untuk menjadi slogan saat dia harus menghadapi rakyat AS. Akibat penggunaan kata tersebut, Trump mengalami peningkatan dukungan yang signifikan saat melakukan pidato politiknya.

Itu baru di Amerika Serikat. Di Indonesia, ada beberapa perusahaan yang memiliki potensi data yang bisa digunakan untuk memanipulasi rakyat Indonesia dengan cara yang tidak etis. Saat ini, kita hanya bisa bergantung kepada niat baik perusahaan tersebut. Namun, niat baik itu tidaklah cukup tanpa ada konsekuensinya.

Sudah saatnya kita berhati-hati membagikan apa pun yang ada di media sosial. Seperti pepatah tentang media sosial mengatakan,

Kalau engkau tak membayar saat menggunakannya, berarti kamulah produknya.

Lalu, bagaimana cara menetralisasi pengaruh pengolahan data tak etis tersebut? Bagaimana mencegah mass social engineering? Saya hanyalah ahli TIK, semoga rekan-rekan di sosial bisa memiliki jawaban yang lebih baik dari saya.

Jan Peter Alexander Rajagukguk

Jan Peter Alexander Rajagukguk

Saya seorang yang suka menulis.