Black Panther

Film Black Panther merupakan film yang bisa menjadi membosankan. Banyak yang bilang bahwa mereka bosan menonton film ini. Saya pun menemukan banyak orang, terutama ibu-ibu yang keluar duluan sebelum film berakhir. Mungkin saja film berdurasi 134 menit ini terlalu membosankan untuk mereka.

Dibandingkan dengan film Marvel lainnya, film ini minim lelucon. Di bioskop saja kadang yang tertawa hanya saya sendiri. Itu mungkin karena banyak yang tidak paham dengan konteks adegan film itu.

Buat saya, film Black Panther adalah film yang penting dan mengagumkan. Beraninya Disney Marvel membuat sebuah film drama politik! Seperti komik-komik yang selalu menyempilkan isu-isu sosial, film ini pun menyempilkan banyak isu sosial!

Misalnya, poin yang dibuat oleh rekan saya: mengapa dimulai tahun 1992? Mengapa bukan 80-an, 70-an? Karena tahun 1992 ada kerusuhan rasial di Los Angeles yang sangat relevan dengan gerakan Black Lives Matter.

Film ini pun mengambil formula yang sama dengan film Captain America: Civil War. Mereka tidak berusaha memihak jagoan mereka. Mereka berusaha menunjukkan pandangan dua pihak.

Mereka menempatkan Killmonger, musuh utama Black Panther dengan latar belakang. Kalau mau jujur, kita bisa bersimpati kepada tujuannya melakukan ini semua. Walau pun pada akhirnya, karena posisinya sebagai antagonis, dia tidak ditempatkan sejajar dengan Black Panther.

Film ini pun membuat pernyataan yang menentang Presiden Amerika Serikat saat ini:

Wise men build bridges, fools build barriers.

— T’Chala, raja Wakanda

Beraninya Disney Marvel membuat film pernyataan politis! Ini ‘kan seharusnya menjadi ranah film-film “serius”, bukan untuk film pahlawan super “receh” seperti ini.

Film ini juga mengenalkan ide-ide radikal dan latar belakang dibalik keradikalan mereka. Namun, Ryan Cooglar secara berhati-hati membungkus semua itu sehingga tidak mengejutkan banyak orang. Dia nampak sekali berusaha tidak membahas dalam agar tidak membuat orang yang menonton tidak nyaman.

Siapa pun tahu bahwa 12 Years a Slave adalah film yang bagus. Tetapi, siapa juga yang mau menonton film itu berulang-ulang. Mengilukan!

Ryan Coogler menyediakan poinnya dengan membuat tirai tipis. Sedikit saja kalau kita mau menonton dengan seksama, poin tersebut bisa dibaca. Sungguh, film ini menjadi tontonan berbobot yang layak untuk dirayakan.

Tentunya, film ini tidaklah sempurna. Beberapa adegan CGI masih belum rapi dan kentara sekali. Beberapa seperti tempelan dan tidak alami. Melihat ada beberapa studio efek digital yang terlibat menghasilkan film ini tidak merata kerapian proses CGI-nya. Padahal ada ILM di kredit akhir. Saya malah pikir, mengapa tidak menggunakan WETA?

Keengganan Coogler untuk membuka lebih jauh adegan-adegan terorisme yang menjadi latar film ini menjadi beberapa bagian film ini lemah. Karena keengganan tersebut, kita terpaksa harus berandai-andai motivasi beberapa karakter dalam film ini. Mungkin dia takut film ini menjadi terlalu serius. Wajar, sih, saya juga hampir lupa kalau ini film Disney Marvel.

Saya jadi penasaran dengan adegan-adegan yang tidak masuk ke produk akhir. Apakah jangan-jangan mereka sudah membuat itu semua, ya? Menurut saya, film ini akan maksimal untuk dinikmati bila kita mengetahui tentang isu-isu sosial di dunia saat ini.

Itu sebabnya, film ini bagi saya layak mendapatkan ponten 90 dari 100. Karena 100 milik Tuhan, 90 milik guru. Film ini merupakan film yang sangat menarik. Film ini juga berusaha dengan baik menyediakan sarana untuk diskusi isu sosial global saat ini.

Saya mau menonton ulang film ini lagi.

Jan Peter Alexander Rajagukguk

Jan Peter Alexander Rajagukguk

Saya seorang yang suka menulis.