Sukses

Banyak orang mempertanyakan apakah dirinya sukses atau tidak. Ada yang mengukur dari agama. Ada yang mengukur dari pencapaian diri. Ada yang menghitung dari kekayaan. Berbagai interpretasi ini membuat kebingungan orang. Sukses seakan tidak dapat diukur.

Padahal, menurut KBBI:

suk·ses
/suksés/a berhasil; beruntung

Atau dengan kata lain:

ber·ha·sil
v mendatangkan hasil; ada hasilnya: usahanya ~ baik dalam tahun ini
v beroleh (mendapat) hasil; berbuah; tercapai maksudnya: segala usahanya ~; saya coba mendamaikan mereka, tetapi tidak ~

Artinya, tercapai suatu hasil yang diharapkan dari sesuatu yang dicari/diusahakan untuk didapatkan. Secara obyektif, maka hidup yang sukses adalah hidup yang mencapai hasil. Tinggal dibuat metodologi penilaian secara empirik untuk mengukur tingkat kesuksesan.

Penentuan Hasil Capaian (KPI)

Kalau menurut ilmu organisasi, hasil itu merupakan capaian yang dihitung dari Key Performance Indicator/KPI. KPI adalah rapot nilai untuk mengevaluasi seberapa hal-hal yang telah ditentukan sebagai pencapaian kesuksesan telah terpenuhi. Biasanya, untuk peningkatan, penghitungan KPI dilakukan dalam satu siklus (misalnya setahun).

Contoh KPI:

  • Selama setahun, saya bisa tertawa lepas lebih banyak 20% dari tahun lalu.
  • Berkat yang saya terima tahun ini meningkat 15%.
  • Saya bisa berlibur ke luar negeri sebanyak 4 kali.
  • Saya punya pasangan hidup.

Nah, baru dari itu kita bisa membuat Prosedur Operasional Baku (POB/SOP) untuk mendukung itu. Setiap pengoperasian POB dapat dikuantifikasi dan dinilai kinerjanya sebagai KPI. Sehingga, pada agregasi akhir tahun/siklus penghitungan, dapat tergambarkan nilai capaian seseorang.

Artinya, sukses dapat ditentukan berapa persen capaian yang telah tercapai secara keseluruhan. Misalnya dengan menggunakan prinsip Pareto, setiap KPI dapat digolongkan seberapa tingkat kesuksesan. Lalu, nilai tambah dari pengujian secara metodologis ini bisa menyediakan data untuk memperbaiki sampai kepada level sukses yang diinginkan.

# Membentuk Capaian

Tentu, tidak sembarang kita menentukan KPI! Ada banyak cara/metodologi untuk menghitung hal tersebut dalam organisasi. Satu hal yang sama dari mereka adalah semuanya membutuhkan definisi visi dan misi untuk ditentukan sebagai dasar.

Menurut ilmu Capability Maturity Model (CMM), entitas yang belum mendefinisikan visinya berada dalam Level 0: Not Performed, alias kekanak-kanakan dan masih jauh dari dewasa. Kalau ada orang yang tidak punya tujuan hidup, tidak usah ditanyakan apakah dia sudah sukses atau tidak. Orang tersebut tidak punya dasar.

Dia belum cukup dewasa untuk dapat diperhitungkan. Pantas saja dia hanya bisa mengikut-ikut, terombang-ambing, dan gampang diperalat. Bisa dibilang, secara empiris orang ini tidak akan sukses karena sukses memberikan hasil. Hasil adalah produk dari pencapaian obyektif.

Sebelum yang lainnya dibuat, terlebih dahulu didefinisikan Identitas seseorang. Identitas seseorang misalnya, Pekerja TIK Kristen, Ibu Rumah Tangga Muslim, dan lain sebagainya. Identitas menjadi koridor/pondasi dalam menentukan hal-hal yang lain seperti misalnya Visi dan Misi.

Visi dan Misi terdefinisi dalam Kalimat Visi dan Kalimat Misi merupakan tujuan dan arah seseorang sebelum secara spesifik menentukan capaian-capaian khusus. Kalimat Visi harus dibuat secara sederhana, singkat, jelas, ambisius namun tidak mengawang-awang, dan memiliki target yang dapat terukur. Kalimat Misi harus berisi apa yang ingin dilakukan secara umum untuk mencapai visi tersebut. Jangan lupa, semuanya sesuai dengan Identitas!

Lalu, misalnya menggunakan metodologi Balanced Scorecard misalnya, bisa dibuatkan Strategic Map. Langkah ini untuk menentukan capaian yang diperlukan untuk mencapai Visi dan Misi dalam empat area metodologi ini — finansial, internal, kustomer, dan pembelajaran. Tentu saja, area-area dapat disesuaikan urutannya sesuai dengan identitas yang terkandung dalam tema strategi.

Setelah itu, setiap capaian per area pun dapat dikembangkan menjadi obyektif yang harus dicapai. Dari obyektif-obyektif yang tercipta, kita mendefinisikan metrik (ukuran) untuk menghitung obyektif tersebut. Nah, inilah yang menjadi KPI yang pada akhirnya dipakai untuk secara obyektif mengukur tingkat kesuksesan.

# Akhir Kata

Sukses itu bisa secara obyektif dapat dihitung dan dibuktikan hanya saja orang-orang belum terlalu dewasa untuk membuat dirinya bisa terhitung. Namun, kita dapat mengukur kesuksesan seseorang apa bila dengan menganalisis orang tersebut dan menentukan:

  • Identitas orang tersebut.
  • Kalimat Visi dan Kalimat Misi orang tersebut. Kadang untuk melakukan reverse engineering, perlu analisis historis dan keluarga orang tersebut untuk memahami hal yang lain.
  • Obyektif orang tersebut.
  • Tingkat pencapaian dalam obyektif tersebut.

Tuh! Mudah, bukan, untuk menghitung kesuksesan? Apakah sesuai dengan identitas dan visi/misi yang kamu pilih, Anda sudah sukses?

Jan Peter Alexander Rajagukguk

Jan Peter Alexander Rajagukguk

Saya seorang yang suka menulis.