Cantrang

Hari-hari ini Nelayan Indonesia ada yang bergerak memrotes pelarangan Cantrang. Yang tercatat terbesar misalnya yang berasal dari Tegal. Ribuan nelayan memang terancam kehilangan pekerjaannya.

Sewaktu SD, guru saya bercerita bahwa desanya bagus pertaniannya. Lalu, kemudian bukit yang di dekat desanya mulai ditebangi. Hama pun menyerang dan lahan mereka tak lagi subur.

Menurut hasil diskusi, saat ini terjadi penurunan hasil penangkapan ikan akibat penangkapan ikan berlebihan (overfishing). Penggunaan cantrang, terutama yang dilengkapi dengan pemberat dan bermesin, menangkapi ikan tanpa pandang bulu. Hal ini mengakibatkan ekosistem laut menjadi rusak.

Kerusakan ekosistem laut ini bisa membuat laut tidak dapat memperbaharui habitatnya. Bayangkan bila ini terjadi bertahun-tahun, maka akan semakin sulit bagi nelayan untuk mencari ikan. Lagi-lagi, hanya mereka yang bermodal besar yang bisa mencari ikan jauh ke laut yang dalam. Kalau pun ada nelayan biasa, mereka bermodalkan nekat.

Pelarangan cantrang sudah ada sejak lama dan sudah lama ditunda-tunda. Ketidaksiapan nelayan ketika Januari 2018 diberlakukan patut dipertanyakan. Terutama, kinerja pemerintah daerah dalam sosialisasi pelarangan ini. Bukannya menghambat, malah dalam dua tahun terakhir jumlah cantrang semakin banyak!

Pil pahit ini harus ditelan untuk kepentingan nelayan juga.

Jan Peter Alexander Rajagukguk

Jan Peter Alexander Rajagukguk

Saya seorang yang suka menulis.