Teknik Mengelak Politisi, Studi Kasus Trump

John Oliver dalam acara Last Week Tonight with John Oliver yang diproduksi oleh HBO membahas tentang kelakuan Presiden AS Donald Trump dalam melawan lawan-lawan politiknya. Ada tiga teknik yang dilakukan oleh Trump:

  1. Mendelegitimasi media (pers).
  2. Whataboutism (Bagaimana Tentang).
  3. Trolling.

Delegitimasi Media

Trump berusaha membuat gambaran bahwa media sering kali memuat berita yang tidak benar, terutama yang menyerang dirinya. Trump melabelkan media yang mengkritik dirinya sebagai berita bohong (fake news).

Ada kegelisahan selama bertahun-tahun bahwa Pers disetir untuk kepentingan elit tertentu. Trump memanfaatkan ini untuk membuat dia seakan-akan menjadi korban yang berusaha dijatuhkan dengan kuat oleh musuh-musuhnya. Simpati pun berdatangan.

Whataboutism (Bagaimana Tentang)

Ketika ditanya untuk mengonfirmasi tentang ucapannya, Trump pun menambah keruh pembicaraan dengan menyebutkan kasus-kasus lain. Misalnya, ketika ditanyakan tentang keterlibatan Rusia dalam Pemilu, dia membawa-bawa skandal Clinton tentang Benghazi dan segala macam.

Memang, keduanya isu yang benar untuk diperhatikan. Tapi, ‘kan, diskusi sedang membahas satu hal saja. Tentu, kasus yang kedua juga akan dibahas nanti. Mana bisa kedua kasus rumit dibahas bersamaan. Yang pasti akan membuat pusing dan akhirnya tidak ada kesimpulan.

Trolling

Trolling adalah kegiatan yang dibentuk secara kultur di Internet. Namun, Trump menggunakan teknik tersebut untuk membuat bingung orang-orang yang mengritiknya. Misalnya saja dalam kasus perang.

Bukannya memberikan pernyataan jelas mengenai apakah AS benar-benar akan berperang, dia memberikan pernyataan asal-asalan dan ketika dia lihat sinyalemen yang tidak jelas, dia pun membuat pernyataan bahwa semua ini hanya trolling. Omongan dia jadi tak bisa dipegang. Wow, AS saat ini punya presiden yang omongannya tak bisa dipegang.

Untung dia ini ada di negeri orang. Saya, mah, mencatat ini semua siapa tahu nanti di Indonesia menjelang Pemilu 2019 ada yang mencoba meniru gaya Trump. Teknik ini jelas sekali membagi bangsa menjadi dua polar. Namun, sebagai satu bangsa, seharusnya perbedaan pandangan politik tidak harus membuat seseorang menjadi bias.

Salah satu unsur yang menguatirkan saya akan adanya polarisasi adalah kasus walk out Angkatan 86 Kanisius. Memang mereka berhak menggunakan hak politik mereka untuk menolak pejabat siapa pun. Namun, penolakan yang secara terang-terangan seperti ini jelas mengindikasikan bahwa ada polarisasi yang akut.

Demokrasi adalah berbeda pendapat. Perbedaan pendapat tersebut yang menjadikan demokrasi indah. Namun, tidak seharusnya hal-hal yang berhubungan dengan kenegaraan membuat dua kubu berbeda pendapat tidak lagi dapat bersatu.

Ah, saya harap untuk para perancang peta politik di negeri ini mau berpikir yang lebih besar dari pada kepentingan politiknya. Kemenangan tidak harus dicapai dengan membagi sedemikian dalam. Janganlah merancang sampai demikian.

Jan Peter Alexander Rajagukguk

Jan Peter Alexander Rajagukguk

Saya seorang yang suka menulis.