Terpicu

Sebagus apa pun isi artikel akan mengganggu saya, membuat saya kesulitan membaca artikel tersebut, ketika ada artikel resmi yang mengandung kata:

kreatifitas

Ya, Tuhan, menuliskan kata ini saja saya terganggu! Timbul pemikiran negatif dari saya mengenai jurnalis atau pun publikasi lembaga pemerintah yang menulis kata tersebut:

Anda sebenarnya kompeten, ‘kah?

Apalagi untuk lembaga pemerintah yang menulis tulisan tersebut dengan bangga tanpa ada rasa bersalah. Salah satu ikatan untuk mendirikan negara Republik Indonesia adalah Bahasa Indonesia. Setahu saya, setelah usaha van Ophuijsen, pedoman resmi terbaru Bahasa Indonesia yang baku adalah Ejaan Yang Disempurnakan, EYD.

Menurut EYD pada Bagian IV Penulisan Unsur Serapan, kata dari Bahasa Inggris dengan akhiran -ty dituliskan dengan -tas. Kata yang dimulai dengan c- ditulis menjadi k-. Kata creativity dalam bahasa Inggris seharusnya diterjemahkan menjadi:

kreativitas

Kata yang diubah adalah creativity, bukan creative. Kalau kata creative itu baru yang diterjemahkan menjadi kreatif.

Saya bukan orang yang ahli berbahasa. Namun, sudah dari dahulu kita mengenal kata “silat lidah”. Sebelum orang-orang kulit hitam Amerika menggunakan Perang Rap, bangsa kita sudah mengenal pertempuran menggunakan perkataan. Melalui pantun mau pun dialog, seseorang baru dianggap berilmu tinggi ketika mampu mengekspresikan kemampuan berbicaranya dengan baik dan santun.

Coba saja lihat novel-novel lama. Coba saja lihat budaya kita yang masih tersisa kulit-kulitnya dalam melamar atau berunding apa pun secara adat. Budaya asli kita menganjurkan setiap kita yang berhak untuk berbicara memiliki keterampilan dalam berkata-kata. Setiap kata yang keluar mengalir elok dan cerdas, ada balas-membalas yang apik.

Orang yang tidak memperhatikan cara menulis, menurut saya yang terinspirasi budaya tersebut, adalah orang yang cenderung memiliki sumbu pendek dalam berpikir. Ia tidaklah dalam dan tidak mengerti mengenai esensi yang ia hendak katakan. Perkataannya dangkal dan tidak berdasarkan pemikiran yang mendalam.

Pantas saja produk hukum yang dikeluarkan lebih mengarah kepada urusan persenggamaan. Pantas saja budaya instan semakin membuat orang tidak sabar. Pantas saja banyak yang tidak sabar di jalan.

Semua itu dapat dinilai dari cara berbahasa. Bahasa Indonesia memang sulit. Namun, itu menjadi nilai tambah agar kita bisa mengerem terlebih dahulu perkataan. Dengan demikian, hal itu mengurangi perkataan yang tak sepantasnya.

Jadilah bijak, perhatikan caramu berbahasa.

Jan Peter Alexander Rajagukguk

Jan Peter Alexander Rajagukguk

Saya seorang yang suka menulis.