Penurunan Daya Beli?

Bloomberg melaporkan terjadi penurunan daya beli masyarakat terhadap barang-barang retail. Hal diikuti dengan tutupnya berbagai gerai toko ritel. Menurut ekonom PT Bank Mandiri, hal ini dikarenakan naiknya harga listrik dan bonus pegawai negeri yang tertunda. Menurut ketua KADIN, masyarakat cenderung menabung dan menahan diri untuk membeli barang.

Saya sependapat dengan Pakde Jokowi. Pakde mengatakan bahwa tutupnya gerai-gerai fisik oleh karena disebabkan oleh berubahnya pola belanja masyarakat. Masyarakat sekarang cenderung berbelanja secara daring. Hal ini ditandai dengan meningkatnya penggunaan jasa antar barang.

Kalau kita mau survei kecil-kecilan ke banyak pusat perbelanjaan dan pasar, terdengar banyak suara selotip untuk memaketkan barang. Toko menengah dan kecil banyak yang memenuhi kegiatannya dengan memaketkan barang untuk dikirim. Beruntung bagi mereka, berbagai toko daring yang mewadahi mereka untuk berjualan.

Toko daring seperti Bukalapak, Tokopedia, Beribenka, dan Lazada misalnya. Mereka menyediakan lapak-lapak khusus untuk pihak ketiga menjajakan tokonya. Saat ini, banyak toko kecil memanfaatkan hal tersebut. Bahkan, ada banyak individu yang membuka lapaknya secara daring di lapak-lapak toko tersebut.

Untuk individu, ada tren bagi mereka untuk memanfaatkan media sosial sebagai sarana berdagang. Ada yang memakai Instagram, Facebook, dan lain sebagainya. Untuk penjualan individu ini, bahkan pemerintah kesulitan dalam melacak pertumbuhannya.

Tidak Siap

Seperti Express dan Blue Bird, perusahaan tradisional di Indonesia berada di dua polar yang berbeda. Ada yang seperti Blue Bird yang menyesuaikan diri dengan ikut masuk ke kancah bisnis taksi daring. Namun, ada yang seperti Express yang tidak dapat menyesuaikan diri.

Saya, sih, tidak panik. Dari beberapa kali diskusi dengan supir taksi Express, mereka banyak yang berpendapat akan pindah ke taksi daring. Tuntutan regulasi yang tidak cepat membaca zaman membuat taksi-taksi lokal terpuruk. Namun, supir taksi dapat pindah dengan mudah ke taksi daring.

Saya lihat ritel yang paling siap adalah grup Matahari yang membentuk MatahariMall. Sayangnya, mereka belum membentuk tim promosi sosial yang mumpuni. Hanya klaim situs #1 di Indonesia di situsnya. Namun, langkah mereka untuk membuka toko daring layak untuk mendapatkan pujian.

Yang paling membingungkan adalah Bank. Mereka berlomba-lomba untuk menerapkan uang elektronik (e-money) namun seakan melupakan bisnis gerbang pembayaran (payment gateway). Dari semua layanan gerbang pembayaran populer yang digunakan oleh toko daring, tak satu pun besutan bank! Padahal, peningkatan start up dan UMKM penjualan daring yang didukung oleh pemerintah seharusnya dapat mengambarkan kue yang tersedia bagi mereka.

Menurut saya, pebisnis dan pengambil kebijakan di Indonesia banyak yang tidak peka terhadap perubahan zaman. Banyak mereka yang mengira bahwa Indonesia masih butuh waktu lama untuk berubah. Rakyat butuh waktu untuk menyesuaikan diri.

Ya, ampun, teman saya di LSM saja bercerita bahwa di daerah terpencil tempat dia waktu itu berkunjung sudah ada video Ariel. Teknik memasak gorengan dengan plastik saja bisa tersebar dengan rapih ke penjual gorengan. Atau, bahkan, usaha jual tahu bulat saja bisa merebak. Masyarakat kita memiliki kemampuan beradaptasi tinggi!

Sudah saatnya pengusaha tradisional berpikir ulang tentang perilaku masyarakat Indonesia. Media sosial mengubah dataran pasar Indonesia. Berubah atau mati!

Jan Peter Alexander Rajagukguk

Jan Peter Alexander Rajagukguk

Saya seorang yang suka menulis.