Awan di Dalam Negeri

Pakde Jokowi mengingatkan kita untuk tidak berusaha membuat Google atau pun Alibaba baru. Pendapat ini sepertinya baik karena mungkin Pak Presiden kita ini memikirkan bahwa kita takkan mampu untuk bersaing melawan mereka. Lebih baik mengumpulkan sumber daya yang ada.

Apa, sih, yang menjadi hambatan untuk masuk pasar?

Kalau misalnya masalah teknologi, semua teknologi penting Internet berbasiskan Perangkat Lunak Bebas dan Terbuka (Free Open Source Software/FOSS). Sehingga, tidak seperti masa lalu, pengetahuan terbuka bagi semua orang.

Bahkan, Microsoft sebagai penentang FOSS di era Ballmer pun sekarang terpaksa mengakomodasi FOSS. Mereka pun sekarang menjadi salah satu sponsor organisasi Kode Terbuka (Open Source). Kalau ia mau bersaing menyediakan infrastruktur awannya, Azure, melawan sang penguasa pasar, Amazon Web Service, dia harus seperti itu.

Kode Bebas dan Terbuka menjadi alternatif yang seksi bagi semua orang. Perangkat lunak tersebut menurunkan harga untuk masuk. Bahkan, Internet terbentuk dari Perangkat Lunak Bebas dan Terbuka. Usaha TIK saat ini yang berbasis Internet, pastinya berbasis Perangkat Lunak Bebas dan Terbuka.

Dengan adanya Open Stack dan teknologi serupa yang dapat dipelajari dan dikembangkan, Indonesia bisa membangun infrastrukturnya sendiri yang memiliki standar yang sama dengan AWS. Awan yang dibangun ini pun memiliki interopabilitas dengan infrastruktur asing. Sehingga, biaya konversi antar penyedia awan bisa ditekan.

Lalu, apakah Pakde takut kalau kita akan kalah bersaing?

Kebutuhan di Internet itu masif sehingga tidak ada satu pun perusahaan yang bisa memenuhinya. Perbedaan budaya pun menyebabkan aplikasi global takkan pernah bisa masuk ke dalam. Itu sebabnya, pasar nische akan selalu ada di Internet.

Penyediaan awan di Indonesia tentunya akan menyediakan nische tersendiri. Pasar Indonesia tidaklah se-nische itu. Indonesia dengan pertumbuhan pesat pasar Internetnya menyebabkan banyak pemain TIK untuk masuk ke pasar dalam negeri.

Penyediaan awan yang berlokasi di dalam negeri setidaknya menyediakan keunggulan dibandingkan AWS/Azure yang terletak di Singapura. Akses kepada pasar Indonesia pastinya akan lebih cepat dan murah.

Satu keunggulan yang orang sering lupa: metode pembayaran.

Pembayaran awan asing memerlukan kartu kredit atau PayPal. Padahal, tak semua pasar Indonesia yang punya itu. Pasar awan biasanya membidik individu. Pasar awan yang pembayarannya lokal tentunya akan menstimulasi orang-orang untuk terjun ke awan lokal.

Orang-orang bisa membuat toko daring sederhana. Bermodalkan buku-buku panduan di toko buku, mereka bisa membentuk toko mereka sendiri. Insentif kepada mereka akan sangat tinggi.

Apalagi, karena infrastruktur ada di dalam negeri, maka perlindungan hukum bisa ditegakkan. Kepolisian tak perlu bersusah payah mengejar data. Dengan perintah pengadilan, pertentangan hukum akan bisa diselesaikan dengan baik.

Bayangkan susahnya untuk mengejar jejak forensik bila peladen berada di luar yuridiksi negara!

Ah, jangan lupa pula, teknologi awan adalah menjalankan komputer-komputer maya di atas satu komputer fisik. Kita tidak tahu ada kode apa yang berjalan di komputer inang. Saya bukan penyuka teori konspirasi, tapi yang namanya perang maya (cyber war) itu nyata.

Untuk pengolahan data, kebutuhan untuk investasi awan dalam negeri juga menjamin integritas bangsa. Dengan berkembang pesatnya industri profiling, negara perlu menyiapkan instrumen untuk melindungi kepentingan NKRI. Ah, tapi itu cerita yang lain.

Itu sebabnya, Pakde dan jajarannya seharusnya justru mendorong pertumbuhan penyedia awan. Apakah Pakde mau melihat penyedia hostingan lokal mati? Seharusnya, mereka diasuh untuk pindah ke teknologi awan supaya jangan nantinya tergerus pemain asing.

Merdeka!

Jan Peter Alexander Rajagukguk

Jan Peter Alexander Rajagukguk

Saya seorang yang suka menulis.