Pemilihan Platform Blogging

Saya memiliki blog utama di Blog Staf UI, Blogspot, dan Github. Setelah saya pelajari lebih lanjut, ketiga blog ini, kok, rasanya tidak cukup untuk keperluan saya. Saat ini saya hendak berkomentar banyak mengenai apa yang terjadi di dunia. Namun, sepertinya blog saya yang sebelum-sebelumnya sepertinya tidak cocok.

Blog-blog Terdahulu

Saya pertama kali membuat blog di Blogspot sebelum dibeli Google. Saat itu saya terkesan dengan platform ini yang satu-satunya menawarkan fleksibilitas templat. Awal mulanya, saya menggunakan blog tersebut untuk berlatih berbahasa Inggris.

Sempat masuk top 2000 di Alexa. Salah satu artikel saya tentang pemasangan Debian sempat menjadi salah satu acuan di situs resmi Debian. Namun, saya sempat memvakumkan situs tersebut karena popularitasnya menyebabkan artikel-artikel saya penuh dengan SPAM.

Terus terang, setelah saya melihat tulisan saya, kok, rasanya tulisan saya berat sekali di sana. Selain itu, penyunting teks di Blogspot agak tidak nyaman dan menyusahkan untuk dipakai dalam menulis.

Lalu bagaimana dengan Blog Staf di UI?

Blog Staf UI berada di UI sehingga saya menghindari menulis hal-hal yang keberpihakan kepada suatu orientasi politik atau pendapat. Sebenarnya, saya ingin sekali berpendapat mengenai satu dan lain hal. Hanya saja, saya tahu diri dan tidak ingin menyebabkan masalah di instansi tempat saya bekerja.

Kalau melihat artikel-artikel di Github, saya pikir Anda tahu mengapa saya tidak ingin menulis di sana. Saya membuat blog tersebut untuk membuat catatan cepat mengenai hal-hal yang sangat teknis.

Pokoknya, saya butuh tempat menulis untuk saya bisa curhat.

Blog-blog di Indonesia

Sebelum jatuh pilihan saya ke WordPress.com, saya sudah mencoba beberapa platform blog Indonesia. Sayangnya, mereka tak satupun memenuhi kriteria saya. Saya tak suka dengan mereka yang cenderung seperti berusaha mengumpulkan opini-opini politik. Padahal, tulisan saya tak melulu soal politik.

Ini beberapa yang saya berhasil simpulkan:

  1. Kumparan. Sepertinya blog ini lebih cenderung untuk menulis editorial yang terkurasi. Saya butuh kebebasan!
  2. Blogdetik. Blog ini simpel dan menggunakan WordPress. Sayangnya, tulisan-tulisan saya cenderung berbau teknologi. Blogdetik tidak ada tag tersebut.
  3. Kompasiana. Iklannya terlalu banyak untuk ukuran blog yang ditulis oleh orang-orang tanpa bayaran (sebagian besar). Selain itu, batasan maksimal 1 tulisan per jam membatasi kebebasan saya berkarya.
  4. My.ID. Blog oleh Pandi ini mengharuskan nomor KTP dan nama ibu. Wow, bahaya sekali! Bila situs ini teretas, maka informasi yang dipakai juga di perbankan ini dapat dipakai orang-orang niat untuk merampok. Ogah! Saya tidak tahu lagi mau mendarat di mana.

Pilihan Saya

Ya, sudah, mengingat Automattic sudah membuatkan mesin WordPress terbuka. Apalagi, sebagai pelopor platform blog (Blog Staf dan Blog Mahasiswa UI) di Indonesia, saya sangat diberkati oleh WordPress. Ya, sudah, saya pilih WordPress.com saja.

Saya masih menimbang-nimbang untuk menulis di tempat lain. Adakah saran untuk platform blog lokal? Atau, setidaknya, adakah alasan lain yang membuat saya bisa menimbang situs-situs yang telah saya lihat sekilas sebelumnya?

Jan Peter Alexander Rajagukguk

Jan Peter Alexander Rajagukguk

Saya seorang yang suka menulis.